Bekasi - Pandemi Covid-19 yang belum akan diketahui kapan akan berakhir kini membuat sebagian pelaku usaha UMKM mengalami penurunan omset penjualan. Sebelum wabah Covid-19 para pelaku usaha baik di bidang kuliner, kerajinan tangan, atau lainnya akan menjual dagangan nya secara langsung kepada masyarakat. Hasil penjualan nya pun juga cukup besar tiap hari nya. Namun akibat pandemi Covid-19 ini nasib para pelaku UMKM berubah 180 derajat. Mereka saat ini dilanda kebangkrutan dan sepi nya penjualan akibat pola jual beli masyarakat yang mulai beralih menggunakan sistem online. Maka untuk menyiasati supaya penjualan mereka tetap berjalan dan laku beberapa dari pelaku UMKM beralih menggunakan sistem online melalui market place atau menjual barang dagangan nya melalui e-commerce yang sudah ada.
Adapun seperti hal nya Ibu Damayanti, seorang penjual makanan yang tiap hari nya membuka warung makan di pinggir jalan raya Margaasih, Bekasi Jawa Barat. Ibu Damayanti mengaku saat ini penjualan di warung makan miliknya sepi pengunjung. Biasanya sebelum pandemi Covid-19 warung makan milik nya selalu ramai dikunjungi orang yang akan sarapan hingga makan siang. Biasanya Ibu Damayanti pun juga memasak lebih dari 3 jenis masakan dan membuat aneka lauk pauk. Namun saat ini karena masyarakat masih melakukan karantina dan bekerja dari rumah membuat dirinya melakukan inovasi dalam memasarkan makanan yang ia buat.
"Iya, memang sangat anjlok sekali penjualan nya. Biasanya banyak para pekerja dan buruh pabrik yang sarapan dan makan siang di warung saya, namun karena pandemi Covid-19 membuat warung saya sepi pengunjung dan saya pun memilih berjualan lewat online," ungkap Ibu Damayanti
Saat ini ibu damanyanti memilih berjualan makanan dengan cara "frozen food" atau makanan yang dibekukan. Hal ini karena makanan yang dibekukan lebih tahan lama serta dapat di makan secara bertahap jadi tidak langsung habis sekali di makan. Saat ini frozen food juga sedang menjadi makanan pilihan banyak orang selain karena tahan lama juga karena mudah jika ingin memasaknya yakni bisa di goreng maupun di kukus.
Ibu Damayanti memilih berjualan seperti ayam bumbu yang di bungkus lalu di masukan ke frezer, kemudian ada aneka dimsum, ada pula serundeng dan lain sebagainya. Ibu Damayanti mengaku senang bisa kembali berjualan namun dengan cara yang berbeda.
"Keuntungan penjualan memang tidak seberapa, jika dibandingkan ketika berjualan di warung. Namun saya tetap bersyukur masih bisa berjualan dan pelanggan setia saya juga masih sering beli frozen food buatan saya" Ungkap Ibu Damayanti.
Ibu Damayanti akan kembali berjualan ketika wabah Covid-19 nanti nya sudah hilang. Namun semuanya juga tergantung dari pemerintah yang memiliki kebijakan untuk mengatur dan mengelola para pelaku UMKM dalam berjualan nanti nya. Ibu Damayanti pun berharap supaya pemerintah pun juga bisa membantu pedagang kecil yang saat ini sedang dilanda krisis finansial akibat penjualan yang cukup menurun.
Senada dengan Ibu Damayanti, Bapak Jupri pedagang ikan asin yang sehari-hari nya berjualan di pasar juga merasakan dampak dari pandemi Covid-19 ini. Bapak Jupri adalah salah satu dari sekian para pedagang ikan asin yang sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan ikan di pasar. Bapak Jupri mengaku bahwa saat ini omset penjualan ikan asin nya sangat turun drastis. Hal ini karena masyarakat saat ini sudah mengurangi aktivitas jual beli secara langsung di pasar, Mewabahnya Covid-19 menjadi alasan para pembeli mengurungkan niat untuk pergi ke pasar supaya terhindar dari Covid-19. Pemerintah pun juga sudah membuat aturan untuk tetap di rumah saja. Sehingga para pengunjung pasar pun juga menurun secara drastis.
“Saat ini penjualan saya menurun sekali, biasanya para pembeli tiap hari selalu ada, bahkan tiap hari ikan asin yang saya jual hampir sekitar 15kg ikan asin per hari. Namun saat ini turun nya hampir 50 persen. Saya bingung harus bagaimana, mungkin nanti saya bakal jualan ikan asin secara online saja demi memenuhi kebutuhan konsumen di rumah” Ujar Bapak Jupri.
Bapak Jupri nantinya akan lebih fokus untuk berjualan secara online. Nantinya ikan asin yang ia jual akan terlebih dahulu dibekukan alias frozen food. Hal ini dilakukan untuk mengatasi supaya ikan hasil jualannya tidak cepat membusuk dan lebih tahan lama jika nantinya akan dimasak atau di olah kembali. Bapak Jupri pun ingin belajar menerima keadaan seperti saat ini. Ia mengaku akan lebih mengandalkan teknologi untuk berjualan.
“Nanti saya akan coba memasarkan lewat market place atau pun situs jual beli makanan online di Kota Bekasi” Kata Bapak Jupri.
Itulah beberapa kisah para pelaku UMKM yang saat ini sedang dilanda masalah ekonomi akibat penjualan dagangan mereka yang tersendat akibat pandemi Covid19. Tidak hanya Ibu Damayanti dan Bapak Jupri saja yang merasakan susahnya mencari nafkah di saat pandemi sekarang ini. Banyak masyarakat di luar yang merasakan dampaknya, para penjual makanan yang omset nya menurun hingga harus beralih menjual dagangan nya melalui situs jual beli secara online.
Pandemi Covid19 seperti sekarang ini memang tidak diharapkan oleh banyak orang. Namun yang namanya bencana dan wabah penyakit kita tidak bisa tahu kapan datang dan berakhirnya. Di sisi lain kita harus bisa mencari jalan keluar untuk bisa melewati ini semua. Suatu bencana tidak hanya menimbulkan hal negatif saja, namun jika kita bersyukur tentu hal positif juga akan muncul.
Sisi positif yang bisa kita ambil adalah Kita semakin di dekatkan dengan teknologi. Bagi sebagian orang kecanggihan dan kemajuan teknologi mungkin di rasa sudah sangat populer bahkan anak-anak jaman sekarang sudah sangat piawai dalam menggunakan teknologi. Contoh saja, anak-anak yang masih berusia di bawah 17 tahun saat ini sudah sangat gampang menggunakan media sosial, bahkan mereka pun juga bisa membuat akun media sosial nya sendiri. Mungkin hal ini akan berbeda dengan generasi sebelumnya, atau generasi Kakek dan Nenek kita jaman dahulu.
Teknologi bisa kita gunakan kapan pun dan di mana pun
kita berada. Cukup dengan akses internet saja kita bisa berselancar secara
gampang di berbagai platform. Hal ini lah nantinya yang bakal kita gunakan ke
depannya. Oleh karena itu bagi mereka yang jarang sekali menggunakan sosial media,
mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk belajar. Jadi apa pun jika kita
sudah berhasil menggunakan sosial media dengan baik dan bijak, maka hasilnya pun
juga akan baik untuk kita. Misalnya, kita akan berjualan makanan lewat media
sosial. Maka dari beberapa pengikut kita nanti juga akan lebih mudah tertarik
untuk membeli nya. Secara saat ini media sosial menjadi media yang paling
banyak digunakan oleh banyak orang di dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar